Kamis, 25 Oktober 2012

Sudut Pandang (angle) Fotografi

salam Jepret..

 
apa kabar nih kawan EPICENTRUM,,semoga baik selalu ya..:)
nah aku mau share lagi tentang ilmu ke-Fotografi-an nih,,setelah postingan sebelumnya membahas tentang komposisi, kita sambung sekarang dengan sudut pendang dalam Eksekusi dalam pengambilan gamabar (Angle of Photography)
Angle atau dalam istilah lain disebut sebagai posisi/sudut bidik mempunyai peranan penting dalam photography, karena dengan mengetahui berbagai angel dalam photography maka konsep yang ingin kita capai,atau pesan yang ingin kita sampaikan dalam menghasilkan sebuah karya photo akan lebih mudah.
 
"pemilihan angle yang tepat akan memperkuat kesan
atau daya tarik dari foto kita"
 
Oke sekarang marilah sama-sama kita pelajari apa aja sih angel dalam photography itu, dari yang umum dilakukan oleh para photographer. Tidak terkecuali photographer pemula ataupun photographer yang sudah kelas dunia.
 
1.       Normal angel
Kalau yang ini banyak temen-temen dari kalangan fotografi yang menyebutnya frontal atau angel umum karena pada posisi ini kamera yang dipegang oleh photographer sejajar dengan objek yang kita jadikan objek sebuah foto.
 
 
2.       Bird eye view atau eagle eye angel
Berbeda dengan normal angle, angel ini merupakan suatu angel dimana kita sedang berada disuatu ketinggian tertentu, oleh sebab itu diistilahkan sebagai sudut pandang mata elang. Ini basanya dilakukan dalam melakukan landscape photohgraphy dimana ang kita tuju adalah keluasan ruang yang akan kita jadikan sebuah karya photography tersebut. 
 
3.       Low angel
Kata yang satu ini pasti sudah sangat sering di dengar. Sesuai dengan kata-katanya “low angel” berarti sudut tembak yang rendah dari objek yang kita jadikan sasaran.
 
 
4.       High angel
Angel jenis ini merupakan kebalikan dari “low angel” yaitu memposisikan diri tepat berada diatas objek yang kita jaikan sasaran/objek bidik.
 
 
5.       Frog eye angel
Angel jenis ini sesuai dengan namanya juga “frog” yang berarti kodok. Yiatu suatu angel yang sangat rendah. Bahkan lebih rendah dari “low angel”. Angel jennies ini menuntut seorang photographer untuk mengambil posisi kamera yang dipegang sangat dekat dengan tanah. Bahkan tidak sedikit photographer mencapa angel ini dengan posisi tiarap laksana seorang tentara yang sedang merayap.
 

nah itulah tadi berbagai macam Angel dalam Photography yang umum dilakukan oleh para photographer. tapi dengan ber-Eksperimen terus menerus, dan mencoba mengembangkan angel-angel inipun akan membuat kita merasakan suatu feel yang berbeda dari setiap hasil karya yang kita ambil melalui angel yang berbeda pula.
 
Semoga postingan sederhana ini dapat bermanfaat bagi temen-temen semua yang hendak belajar fotografi. Jika ini berguna bagi anda sudilah kiranya tinggalkan komentar.
 
salaaam Jepreet..!!!

Fotografi Makro

Foto makro memang tidak sepopuler foto lainnya, seperti foto pemandangan, foto diri, keindahan alam, dlsb. Meski demikian, temen-temen tidak salah jika ingin mencoba memotret dengan sasaran objek-objek yang kecil. Hitung-hitung tambah pengalaman, begitu lho! Apalagi jika kalian telah menggunakan kamera digital, pasti semakin leluasa untuk berkreasi.
Membuat foto makro termasuk tidak mudah. Menurut pakar fotografi, Leonardi, kita harus mencari dengan cermat sasaran apa yang bisa menjadi menarik untuk difotomakrokan. Sudah barang tentu bukan benda-benda yang sekadar kecil bentuknya, karena adakalanya bagian tertentu dari suatu benda besar pun bila direkam secara makro, bisa menjadi objek yang menarik. 
Arti kata makro adalah besar. Namun dalam fotografi makro, yang dijadikan sasaran pemotretan adalah objek-objek yang sangat kecil. Maka walaupun sebagian besar lensa-lensa untuk tujuan memotret benda-benda kecil itu dinamakan lensa makro, Nikon memilih kebijaksanaan sendiri dengan menamakannya sebagai lensa mikro (mikro = kecil). Tetapi kedua-duanya sama-sama bertujuan untuk memotret benda-benda kecil, yang kemudian divisualisasikan menjadi jauh lebih besar dari pada ukuran aslinya. Ya di sinilah daya tarik yang bisa kita ciptakan, kita visualisasikan, karena objek-objek yang tampil bukanlah sesuatu yang bisa disaksikan orang setiap hari.
Secara umum yang dikategorikan sebagai lensa makro atau lensa mikro adalah jenis lensa yang mampu merekam/memotret sasaran (pada film) sama besar dengan benda aslinya, disebut berasio 1:1; atau paling tidak separuh besar benda aslinya, atau dengan rasio 1:2. Kini banyak lensa-lensa vario yang disebut berfasilitas makro dengan rasio 1:4, sebenarnya dengan rasio seperti itu, resminya belum termasuk lensa makro.
Namun untuk menghasilkan foto makro, sebenarnya tidak mutlak harus menggunakan lensa makro yang harganya cukup tinggi, yakni jutaan lebih, karena jenis lensa-lensa biasa pun dengan ditambah berbagai aksesoris, bisa menjangkau rasio seperti lensa makro. Misalnya dengan tambahan konverter tele2X dan lensa close up +4 pada lensa normal 50 mm, sudah akan menghasilkan rasio sekitar 1:2, bila lensa close-up-nya +5 sudah mendekati rasio 1:1. Perangkat lain adalah reverse ring, gelang pembalik ini berperan untuk memasang lensa dengan arah terbalik. Bagian depan mengarah pada bodi kamera, sedangkan bagian belakangnya menghadap ke depan. Dengan gelang pembalik ini, segala jenis lensa berubah fungsi menjadi lensa makro "gadungan" dengan rasio sekitar 1:1, dan ini merupakan sarana termurah, karena harga gelang tidak terlalu mahal. Atau Anda pun bisa menganut cara klasik dengan menggunakan extension tubes, yang sekarang bisa digantikan dengan extension bellows. 


Sayangnya dengan sarana-sarana tambahan tersebut, jarak depan lensa terhadap objek amat dekat, sehingga bila sasaran kita adalah serangga kecil misalnya, dia sudah kabur sebelum terfokus tajam. Tidak ada sarana lain? Ya lensa makro. Untuk memotret benda mati, boleh memilih yang berjarak fokus 55 mm, sedangkan untuk benda hidup yang mudah bergerak harus memilih yang 100 mm atau 200 mm. 
Jika temen-temen menggunakan lampu kilat, lakukan tidak dengan menancapkan di atas kamera seperti biasa, karena arah cahayanya tak akan menuju sasaran dengan benar. Maka untuk pemotretan makro ini, kita harus menggunakan flash bracket yang dipasang pada lensa atau lebih efektif dengan menggunakan ring flash.
Boleh dibilang objek foto makro banyak sekali. Mulai dari bunga-bunga atau rerumputan yang masih dihinggapi embun malam, bila terkena siraman cahaya matahari pagi, bisa dijadikan foto makro yang indah sekali. Juga ulat, semut, atau serangga lain disekitar kita, juga dapat dijadikan sasaran yang mengasyikan. temen-temen pun bisa beralih ke hal lain seperti benda-benda mati di dalam rumah. Ujung pensil atau bekas rautannya, pangkal ballpoint, sebagian dari sisir digabung dengan bagian dari sikat gigi, tebaran paku payung, kumpulan jarum pentul. 
Segala benda berwarna yang kalian temui bila dicuplikan sebagian kecil, niscaya bisa dijadikan suatu karya foto yang memiliki nilai lebih, dan bisa dijadikan pajangan dalam pigura untuk digantung di dinding. Setelah Anda mahir cobalah dengan memadukan beberapa benda atau bagian benda untuk disusun sebagai suatu komposisi baru, pasti akan lebijh asyik lagi.
Beberapa kesulitan akan kalian hadapi dalam membidik sasaran. Dengan begitu dekatnya posisi lensa dengan objek, sehingga bergerak sedikit saja, sasaran sudah out-of focus. Kemungkinan yang bergerak itu bisa kamera, bisa juga objeknya. Namun dengan bantuan penyangga hal itu bisa diatasi sebagian. 
Hal lain adalah sempitnya ruang tajam, maka kita hampir selalu memilih bukaan diafragma terkecil yang dimungkinkan. Adalah bijaksana dengan menggunakan ISO 200-400 misalnya. Apalagi jika kalian sudah memiliki kamera digital. Dengan kamera ini Anda akan bisa lebih leluasa berkreasi. Pasalnya, kamera pintar ini sudah dilengkapai modus pemotretan makro. Bahkan, kemampuan pemotretan tehadap objek bisa dilakukan dengan mode pemotretan super-makro, dengan jarak paling dekat 2 cm.
Sudah tentu segala aksesoris kreatif, misalnya filter cross screen, galaxy, bahkan yang berwarna, bisa juga kita manfaatkan, agar kita peroleh kreasi lain yang lebih spektakular. Selain itu masih ada alat pendukung yang agak mahal, yakni micro adjuster. Alat ini memiliki rel silang, bisa maju mundur, juga bisa gerak kiri-kanan. 
Dengan terpasangnya di atas kakitiga (tripod), lalu ditumpangkan ke kamera, maka dalam penajaman gambar kita akan banyak terbantu. Sebab untuk mendekat atau menjauhi sasaran dapat dilakukan secara lembut sekali dengan memutar pendorong rel sesuai kehendak. Dengan alat tersebut, tripoid tidak perlu dimaju-mundurkan, karena adjuster bisa mengambil alih tugas tersebut. Dalam pemakaian, alat itu bisa juga berfungsi sebagai penajam gambar, jelasnya ia bisa bekerja serentak bersama selektor jarak pada kamera.
Di bidang medis, pasangan lensa makro dengan ring flash sudah lama dimanfaatkan, lebih sering daripada mikrografi. Dalam suatu operasi misalnya, untuk mengabadikannya menjadi efisien, karena selain praktis, juga tiada masalah timbulnya bayangan yang mengganggu, bahkan praktis bebas bayangan (shadow-free)

Teknik Fotografi: Pemotretan Gerak

Misi agan-agan dan agan-wati serta teman-temin sekalian yang masih setia dengan "Epicentrum",,kali ini aku mau bahan masalaha fotogarafi lagi nih.

setelah kemaren bermain dengan bukaan diafragma "Arperture" sekrang kita bermain dengan Shutter Speed. sekiranya aku gak perlu jelasin lagi ya,,apa itu shutter speed..intinya itu adalah kecepatan membuka/menutupnya "rana" atau tirai yang akan mengatur seberapa lama cahaya masuk ke dalam kamera..
teman-temin sekalian dapat mengabadikan gerak dengan menggunakan lampu kilat atau rana dengan kecepatan tinggi. Namun, efek bergerak bukan hanya muncul karena sebuah gambar tampil dengan tajam. Ada kalanya, gambar yang ingin kalian tampilkan harus tampil blur untuk memberikan kesan gerak. Berikut ini beberapa teknik yang kerap dipakai untuk memberi kesan gerak pada foto.
1.Teknik Blurring
Salah satu cara paling efektif memberi kesan bergerak pada sebuah foto adalah dengan membiarkan subjek menjadi blur. Untuk memotret subjek yang bergerak menjadi blur diperlukan kecepatan rana rendah. Kecepatan rana yang diperlukan tergantung pada beberapa faktor. Kecepatan subjek yang bergerak menjadi pertimbangan utama. Sebuah mobil F1 yang melaju kencang mungkin akan menjadi blur pada eksposure dengan kecepatan rana 1/500 detik. Sementara itu, pejalan kaki akan menjadi blur pada kecepatan rana 1/30 detik saja.
Faktor penting lainnya adalah sudut pandang dari arah mana dilakukannya pemotretan dan jarak dari subjek pemotretan. Subjek yang bergerak melintas dari samping akan menjadi blur lebih cepat dibandingkan dengan subjek yang bergerak menjauh atau mendekati pemotret secara frontal. Subjek yang bergerak di dekat kalian akan lebih blur jika dibandingkan subjek yang bergerak jauh dari kalian.
nah untuk contoh diatas,aku mengambil  gambar tersebut dengan kecepetan 0.3 detik,,itu sudah cukup memberi efek blur pada gerakan arus air. tetapi efek selanjutnya yang mungkin terjadi adalah Shaking atau gambar goyang. se tenang-tenangnya manusia punya keterbatasan untuk menahan goncangan dari kamera,,olah sebab itu untuk melakukan trik ini dianjurkan menggunakan tripod..dan untuk mencegah cahaya berlebih menggunakan filter ganda lebih dianjurkan.
2. Teknik Panning
Panning adalah cara lain untuk memberikan kesan gerak pada foto. Ketika melakukan panning, agan-agan diharuskan mengikuti subjek selama eksposure. Jika terlaksana dengan baik, hasilnya menjadikan subjek menjadi relatif lebih tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur. Jarang dihasilkan subjek yang sepenuhnya tajam. Namun, beberapa bagian subjek yang mengalami blur justru memperkuat kesan gerak dari foto.
Teknik panning digunakan ketika teman-teman menginginkan kesan bergerak pada subjek tidak hilang
Pemotretan panning harus terencana. Ambillah subjek yang terpisah cukup baik dari background. Cobalah temukan background yang memiliki warna cerah atau berciri jelas yang akan menghasilkan pola menarik dari warna-warna yang diblur. Pada saat pemotretan, waktu yang tepat dan halusnya gerakan kamera merupakan faktor yang sangat penting. Awali mengikuti subjek sebelum melepas rana, lepaskan rana, lakukan terus hingga terdengar suara klik rana menutup kembali. Putar seluruh badan saat mengikuti gerakan subjek, jangan melakukan hanya dengan menggerakkan kepala dan bahu saja. Panning membutuhkan kemampuan praktek, terkadang fotografer profesional pun tidak selalu berhasil dalam setiap jepretannya. 
jadi kalu foto aku diatas berhasil melakukan panning bukan karena aku jago atau sudah pro lho, tapi yang namanya fotografi sering tak terlepas dari faktor kebruntungan,hehe..
Panning menggunakan rana berkecepatan rendah, biasanya 1/15 atau 1/30. Penggunaan kecepatan rana lebih rendah membutuhkan tripod untuk mencegah timbulnya gerakan vertikal kamera yang tidak diinginkan. Untuk mencegah overexposure dengan kecepatan rana rendah pada cuaca terang, gunakan film berkecepatan rendah.
3.Teknik Freezing 
Penggunaan rana dengan kecepatan rendah pada subjek yang bergerak akan menimbul­kan blur yang memberi kesan gerak. Selain itu, penggunaan kecepatan tinggi juga dapat memberikan kesan gerak dengan membekukan gerakan yang sedang berlangsung, pemotretan ini lazim disebut freezing. Hasilnya adalah foto yang mem­perlihatkan subjek foto tepat di tengah gerakan yang sedang dilakukan.
Karena menggunakan kecepatan rana tinggi, gambar subjek menjadi jelas/tidak blur. Pemotretan freezing yang baik membutuhkan perencana­an. Jika mengetahui atau dapat yang bergerak memperkirakan arah yang akan dilalui subjek, teman-teman semuas akan dapat menentukan sudut kamera, pencahayaan, latar belakang, jarak fokus, dan eksposure. Dengan demikian, kalian dapat lebih berkonsentrasi memperhatikan subjek tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengantisipasi puncak gerakan yang akan di freeze. Ketika teman-teman sekalian bekerja dengan rana berkecepatan tmggi, hampir selalu harus diimbangi dengan film berkecepatan tinggi untuk mendapatkan hasil terbaik. Film berkecepatan tinggi memungkinkan teman-teman mendapat diafragma besar. Hasilnya adalah depth off field yang lebih lebar.
4.Teknik Zooming
Zooming merupakan teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat eksposure. Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.

Untuk mendapatkan kesan gerak, teman-teman harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik. Pada saat pemotretan, dalam waktu bersamaan dengan proses eksposure, titik fokus lensa diubah dengan menarik lensa zoom ke dalam atau ke arah luar (untuk jenis zoom yang ditarik) atau dengan cara menggeser titik fokus lensa ke kiri atau ke kanan (untuk lensa zoom jenis gelang). Sebaiknya, gunakan tripod untuk menopang kamera pada saat pemotretan. Tempatkan subjek utama pada bagian tengah foto. Pada bagian ini, ketajaman gambar relatif lebih baik dari bagian lain.
Teknik zooming. Menimbulkan kesan gerak pada subjek yang diam
Efek zooming terbaik akan diperoleh jika background memiliki kontras dan warna yang bervariasi. Besarnya efek zooming yang diperoleh tergantung pada berapa cepat gerakan tangan teman-teman mengubah fokus pada saat eksposure. Teknik ini dapat digunakan baik pada siang hari atau pada malam hari/kondisi pencahayaan kurang. Jika pemotretan dilakukan malam hari, kalian dapat memakai waktu pencahayaan lama dan akan memperoleh efek lampu yang membentuk garis-garis panjang cahaya.
nah itu tadi beberapa teknik ataupun trik dalam dunia fotografi,,
aku disini juga seorang newbie yang masih harus banyak belajar kok,,aku disini posting bukan untuk sok jago tapi murni untuk membagi sedikit pengetahuan yang aku punya untuk teman-teman sekalian agar ilmju tidak sia-sia kan harus dibagi,,lagi pula kalau teman-teman mau mencari di mbah Google pun banyak kok tentang trik-trik semacam ini..

oke semoga bermanfaat..
salam jepreet...!!

Teknik Dasar Fotografi (part2)

Teknik dasar Fotografi: Dept of Field (DoF)

oke melanjutkan postingan sebelumnya tentang Teknik dasar Fotografi,pada postingan kali ini aku akan membahas tentang Dof (bukan merk sabun lho,hehe),,dan ini adalah istilah umum dalam fotografi yang sering banget kita dengar bukan.
Secara harafiah Depth of Field (DOF) berarti kedalaman ruang.atau bahasa mudahnya DOF: Ruang tajam
melihat ketajaman gambar
Di dunia fotografi, DOF secara teknis berarti rentang atau variasi jarak antara kamera dengan subjek foto untuk menghasilkan variasi ketajaman (fokus) gambar yang masih dapat diterima (tidak blur). Dengan kata lain, DOF digunakan untuk menunjukkan ruangan tertentu di dalam foto yang mendapatkan perhatian khusus oleh mata karena adanya perbedaan ketajaman (fokus)

Secara umum, Depth Of Field dipengaruhi oleh 3 hal yaitu :
Jarak fokus utama dari kamera
  • Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan kuadrat jarak objek. Jika kita mengubah jarak antara kamera dengan objek sebesar 3x (lebih jauh - dengan menggeser kamera mundur dari posisi semula) maka lebar ruang tajam akan menjadi 9x lebar semula.
Bukaan diafragma
  • Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan diafragma. Contoh: jika diafragma dinaikkan 2 stop dari f/8 ke f/16, maka lebar ruang tajam akan menjadi 2x lebar semula. 
"atau bahasa mudahnya semakin besar angka f maka bukaan diafragma semakin sempit dan ruang tajam semakin lebar"
Panjang fokus lensa yang digunakan
  • Lebar ruang tajam berbanding terbalik dari kuadrat panjang fokus. Dengan kata lain, lebar ruang tajam akan menjadi 4x lebar semula jika kita mengubah lensa dari 100mm ke 50mm (panjang fokus lensa setengah dari semula).
"atau bahasa mudahnya semakin panjang fokalnya maka ruang tajam semakin sempit,dan makin pendek fokal makan ruang tajam makin luas"
Semakin lebar sudut lensa maka semakin luas daerah ruang tajamnya. Ini artinya, ketika kamera di-zoom out, objek yang kita shoot akan semakin leluasa untuk bergerak maju ataupun mundur dalam jarak tertentu dari kamera dan masih terlihat tajam/fokus. Ruang tajam yang sempit dalam pengambilan gambar telephoto, disebut juga DoF sempit, sedangkan ruang tajam yang luas dalam pengambilan gambar wide disebut juga DoF luas.
Semakin membuka diafragma, semakin sempit daerah ruang tajamnya. Ini berarti, mengatur fokus dalam situasi pencahayaan yang kurang akan lebih problematis dikarenakan diafragma harus membuka lebar dan objek tidak akan leluasa untuk bergerak mendekat atau menjauh dari kamera karena akan keluar dari fokus (out of focus).
contoh:
Informasi Foto:
kamera: Canon EOS 1000d
lensa-panjang fokal: 50mm
bukaan diafragma: f/2
shutter speed: 1/400s
ISO: 100
dengan panjang fokal (focal lenght) 50mm angka diafragma (f) kecil akan menghasilkan bukaan yang lebar dan ruang tajam yang sempit sehingga bagian depan dan belakang objek kaktus tersebut tidak tajam (blur)
 bandingkan dengan yang ini.....
 
Informasi Foto:
lensa-panjang fokal: 18mm
bukaan diafragma maksimal: f/3.5
shutter speed: 1/640s
ISO: 200
dengan panjang fokal 18mm angka diafragma (f) lebih besar dari objek sebelumnya menghasilkan bukaan yang lebih sempit dan ruang tajam yang lebih lebar sehingga seluruh sepeda dari depan hingga belakang terlihat jelas (fokus)
jadi dapat disimpulkan disini bahwa
"semakin besar bukaan diafragma dan semakin panjang Focal lenght maka ruang  tajam semakin sempit seperti gambar pertama, sedangkan semakin kecil bukaan diafragma dan semakin pendek Focal lenght maka ruang  tajam semakin lebar seperti gambar kedua"
Kombinasi antara telephoto (zoom in all the way) dan diafragma yang membuka lebar, akan mengakibatkan ruang tajam yang sempit. Satu contoh, saat pengambilan gambar telephoto (tight shot) seorang penyanyi yang melakukan konser pada malam hari dengan pencahayaan yang minim, kita harus berhati-hati dalam mengatur fokus, karena sedikit saja penyanyi tersebut bergerak mendekat atau menjauh dari kamera, maka dia akan mudah untuk keluar dari fokus.

semoga makin menambah pengetahuan kita tentang fotografi..
selam jepreet..!!

Teknik Dasar Fotografi (part1)

Teknik Dasar

Ayo belajat Fotografi..!!
Pasti temen-temen semua yang udah lama berkecimpung dengan dunia fotografi nggak bakal asing dengan istilah Arperture, Shutter speed, ISO, Exposure,  dan istilah-istilah lain. kadang juga sering denger fotogtafer yang bilang "Kok kayaknya exposurenya terlalu gelap yah?" Apa gak terlalu OE (Over exposed) tuh poto? Lha dalah.. exposure saya harusnya gimana to?

Jangan khawatir dan bingung dengan intilah-istilah aneh di atas friend. aku bakal membagi secuil ilmu yang aku pernah dapet tentang fotografi. tapi bukan berarti aku udah jago fotografi ya,,aku juga seorang Newbie kok yang bakal terus belajar,,dan aku membagi artikel ini juga berdasar pada artikel-artikel yang udah banyak di share di dunia maya kok.
dan satu hal yang pertama dan utama untuk belajar FOTOGRAFI adalah menegtahui teknik dasarnya yaitu... EXPOSURE...
dan moga-moga temen-teman yang baca artikel ini, amal ibadahnya diterima di sisinya,,eh salah maksudnya teman-teman akan mendapatkan sesuatu yang baru dan dapat di langsung dicoba di teknik fotografi.

Setelah membaca artikel ini insyaAllah teman-teman semua gak benar-benar awam lagi dengan yang namanya: Aperture, Shutter Speed dan ISO, istilah-istilah seperti Aperture Priority, Shutter Priority, Manual Aperture and Shutter dan kapan paling efektif untuk memakainya. tau apa itu Panning teknik dan bagaimana sih biar bisa panning?,.lalu apa itu Depth of Field, Mengerti tentang Shutter Speed tentang pembekuan gerakan (Freezing), menghasilkan efek arus (flowing effect)
oke deh langsung aja...tapi sebelumnya kamera DSLR (maap buat yang camdig mungkin lain kali aku share teknik tentang camdig) silahkan di setting pada posisi Manual, karena percuma dong punya DSLR pake full auto mending ganti camdig aja om,hehe...:p
Kamera yang aku pakai adalah DSLR Canon EOS 1000d tapi secara garis besar basic dari setiap DSLR itu sama kok dan bisa di implementasikan di fotografi secara general (dan bagi yang bebeda "agama" monggo menyesuaikan). 
TAKE A NICE EXPOSURE
Ok. Kalau teman-teman bertanya "Seharusnya exposure saya gimana sih?" yah gampang sih jawabnya, "Exposure teman-teman harus bener!" ya kan? bener itu gimana ya sesuai kebutuhan,,tetapi pada umunya yang diharapkan Exposure itu seimbang bukan Over atau Under. Nah, exposure itu bisa di golongkan kepada 3 hal yang saling erat hubungannya, mereka adalah:
  1. Aperture = bukaan diafragma lensa biasanya dalam ukuran f/2.8, f/5.6 dan seterusnya
  2. Shutter Speed = bukaan berapa lama film menerima cahaya sewaktu diafragma di buka; dalam ukuran 2s, 1/250s ,1/500s, dan seterusnya (s = seconds, detik)
  3. ISO, Speed of the film = internasional stteman-temanrd untuk sensitifnya film. contoh: ISO 400 lebih sensitif daripada ISO 200, ISO 200 lebih sensitif daripada ISO 100, dan seterusnya.
di dalam seting kamera (pada bagian atas body ada lingkaran yang bisa diputer-puter) ada istilah Manual (M), Aperture Priority/Arperture Value (pada nikon: A canon: AV), Shutter Priority (nikon: S canon: TV), Automatic? kan lebih asik automatic dong? 
"Ok, bukannya kalau kamera di set P (Automatic atau Program Mode) terus kan tinggal jepret aja om kan semuanya sudah di atur otomatis, nah terus ngapain harus ngerti 3 bahasa aneh di atas coba?". Nah kalo temen-temen sudah puas sama P (Automatic atau Program Mode) exposure setting camera kalian, ya ngapain teman-teman beli DSLR dan baca baca artikel ini?
kenapa sih kita harus ngerti 3 istilah diatas karena kalau kita menguasai dasar-dasarnya pasti kita bakalan lebih mendapatkan exposure yang lebih baik atau lebih banyak kesempatan teman-teman akan mendapatkan exposure yang sempurna. Bukankah lebih baik untuk mempelajari Manual to? 
Nah sekarang coba liat di viewfinder (itu lho kotak kecil yang teman-teman lihat di camera untuk motret) di sana pasti ada semacem gini nih: +'''''0'''''''- ya kan? Nah jika teman-teman memutar control dial (itu lho yang kaya  scroll mouse) di camera temen-temen, tanda panah akan bergeser sesuai dengan yang kalian hendaki, jika teman-teman mutar ke kanan, panahnya ke kanan, kalo ke kiri ya panahnya ke kiri. Biasanya kalau ke kiri valuenya semakin besar atao ke positif kalo ke kiri valuenya semakin kecil dan ke arah negatif. 
Aperture priority (biasanya A atau Av)
Dalam mode AV ini, kalian memilih lens aperture (bukaan diafragma seperti pupil mata) secara manual, sedangkan secara otomatis kamera teman-teman akan menghitung berap shutter speed yang pas. Coba set camera teman-teman ke Aperture Priority, nah di Aperture priority, teman-teman ngatur Aperturenya secara manual, dan camera teman-teman akan mengatur Shutter Speed secara otomatis untuk memberikan exposure yang kamera teman-teman pikir "PERFECT". 
Umumnya Aperture Priority ini dipakai bila keadaan:
1. Cahaya sekeliling sangat minimal. Contoh: dalam event wedding atau dalam event pesta wisuda silahkan untuk setting kamera ke A pada bukaan yang besar (yang angkanya kecil), karena kamera kalian lah yang akan memilih shutter secepat mungkin untuk mendapatkan exposure yang sempurna dan dengan setting Aperture yang dihendaki.
2. jika temen-temen menginginkan maksimum depth-of-field (ruang tajam) dan objectnya tuh tidak bergerak jadi semua akan tampak jelas dan tidak ada blur. pilihlah Aperture sekecil mungkin untuk memaksimumkan Depth of Field (akan di bahas di bawah ini) 
Shutter Priority (biasanya S)
Di dalam mode ini, teman-teman memilih shutter speed secara manual dan meter kamera teman-teman akan memilih aperture secara otomatis. Sama dengan Aperture Priority tetapi kali ini yang teman-teman prioritaskan, dalam kata lain yang teman-teman bisa ngatur itu yah shutter speednya, camera teman-teman akan mengatur Aperture secara automatis yang di pikir kamera teman-teman exposurenya "PERFECT". 
Karena hanya dengan Shutter Priority ini lah kita bisa:
a. FREEZE MOTION = pembekuan gerakan yang terekam di film, dan
b. IMPLYING MOTION = untuk menghasilkan flowing effect, yang bersifat memberikan efek gerakan
shutter maksimal dapat digunakan pada:
. Panning teknik. Panning adalah teknik perekaman object yang bergerak sehingga menghasilkan effect gerakan dan bisa terlihat jika object yang terfokus adalah object yang sedang moving atau bergerak. (akan dijelaskan lebih lanjut disini

Contoh Panning: 
Ok, ada 3 rahasia untuk mendapatkan hasil panning yang memuaskan:
Rahasia #1: Teman-teman harus PARALEL dengan object yang bergerak itu. Dari contoh di bawah ini, tahap awal siapkan kamera dan tunggu sampai mobilnya tuh persis di depan kalian, dan langsung pencet shutter dengan badan mengikuti arahnya mobilnya melaju setelah memencet shutternya.
Rahasia #2: Pilihlah Shutter Speed yang paling cocok untuk objek yang bergerak itu. Biasanya aku pakai Shutter 1/20 atau 1/30
Rahasia #3: Jangan pakai tripod. Pakailah badan teman-teman sebagai tumpuan yang mengayun dari kiri ke kanan atau sebaliknya searah dengan object yang akan di potret.

Manual Exposure (biasanya M)
Nah Manual Exposure ini lah yang memungkinkan kita mengatur sendiri panah2 tadi yang sudah aku jelaskan di atas untuk mendapatkan exposure yang KITA hendaki "PERFECT EXPOSURE" sekali lagi, bukan kamera kita yang mikir perfect tapi kita sendiri. Karena di Manual inilah kita bisa mengatur Aperture dan Shutter Speed secara manual.

"Nah terus apa hubungannya di antara tiga bahasa aneh dan jelek di atas itu, apa sih tadi Aperture, Shutter Speed dan ISO, huh?" Ok. Nih aku jelasin yah. 
1. APERTURE (Diafragma)
Aperture adalah bukaan lensa untuk mengatur berapa banyak cahaya yang masuk. Ukuran aperture biasanya bisa di liat dengan f/ number. Semakin besar nomer f/ nya semakin kecil bukaan lensanya. Dengan kata lain, semakin kecil nomer f/ nya, semakin GEDE bukaan lensanya. CONTOH: f/2.8 bukaannya lensanya tuh lebih besar daripada f/11. Aperture ini lah yang biasanya orang orang di kritik fotografer.net pada bilang "Wahhhh bagus bener DOFnya, bagus bener pemteman-temanngannya!" Nah sekarang ngerti kan kalo Aperture ini adalah sang komandan yang bertanggung jawab atas wilayah ketajaman di dalam satu foto. DOF, kepanjangan dari Depth-of-Field, yaitu wilayah di sekeliling subject yang di rekam oleh camera yang layak tampil tajam di hasil potonya. 
Aperture1 (Semakin besar aperture kita, semakin sedikit wilayah ketajaman poto kita, shallow depth-of-field):

ruang tajam sempit
Nah di contoh ini yang diambil di teras kosan dengan objek kucing yang sedang nangkrimg diatas pager, data photo adalah: 1/200s f/3.5 panjang fokal 200mm. Kalo teman-teman perhatiin, tuh di backgroundnya ga keliatan apa apa yah? Jelek yah poto ini? aku memang sengaja mau lebih fokus ke kucingnya saja, jadi waktu motret ini aku nggak peduli ama background jadi ya aku pilih aja f/3.5 nah Aperture ini namanya "Big Aperture" kalo lebih besar lagi adalah f/1.8.
 





Aperture2 (Semakin kecil aperture kita, semakin banyak wilayah ketajaman poto kita, bigger depth-of-field):
 
ruang tajam luas
Nah di contoh yang ini, data potonya adalah: 1/100s f/22.0 at 18mm. Kalo sekali lagi teman-teman perhatiin deh, tuh dari depan dari sawah yang ijo itu sampe belakang pohon dan gunung kan semuanya fokus. Dengan ini, dapat disebut dengan istilah "Small Aperture" kalo lebih small lagi ya f/32.
Ukuran Aperture dalam perbedaan ukuran satu stop adalah:
f/2 -> f/2.8 -> f/4 -> f/5.8 -> f/8 -> f/11 -> f/16 -> f/22
Dari f/2 sampe ke f/2.8 di katakan Aperturenya turun 1 stop dalam kata laen -1. Dari f/4 turun 3 stop ke f/11. Di katakan turun adalah jumlah cahaya yang masuk melalui diafragma kan lebih sedikit jadi oleh karena itu di katakan turun.


2. SHUTTER SPEED (Kecepatan penutup lensa)

Nah apa ini? Kalo tadi Aperture kan ngatur berapa banyak cahaya yang masuk kan? Nah kalo Shutter Speed ini ngatur berapa lama cahaya itu masuk ke film. Contohnya: shutter speed 2s (2 detik) tentunya cahaya yang masuk lebih lama ya kan? kalo shutter speed 1/1000s ( 1/1000 detik lho) ya jelas aja cahaya yang masuk cuman sekilat aja. Gampang kan?

Shutter speed 1 (semakin lambat shutter speed, cahaya yang di peroleh film akan semakin banyak) 

bluring seperti kapas

Nah di contoh yang ini di ambil di air terjun curuk cilember alias curuk7 di daerah puncak, data dari foto tersebut adalah: 2s f/16.0 panjang fokal 50mm . tapi ini baru 2 detik harusnya 5 atau 10 detik sayangnya nggak bawa tripo.. kalo ga gitu kan ga bisa create kayak gini tuh liat airnya kayak kapas gitu halus, Ini di karenakan cahaya yang masuk lebih lama oleh karena itu cahaya yang terekan di film akan seolah-olah menghasilkan effect seperti water flowing (air yang mengalir)



Shutter speed 2 (semakin cepat shutter speed, cahaya yang di peroleh film akan semakin sedikit, lebih untuk ke FREEZE MOTION, yakni untuk membekukan gerakan)
Freezing
Nah di contoh di atas, kali ini kelakuan teman-temanku yang pengen di foto sambil loncat. Oleh karena itu aku pilih fast shutter speed untuk membekukan gerakan temanku yang yang sok-sok'an bisa kungfu ini.
Urutan Shutter Speed dalam perbedaan ukuran satu stop adalah: 
1/8 -> 1/15-> 1/30 ->1/60 ->1/125 ->1/250 ->1/500 ->1/1000 (dalam detik)
3. ISO, Speed of Film
Begini saja, anggap saja ISO ini adalah kunang-kunang yang bekerja di dalam camera teman-teman. Kalo di camera diset ke ISO 400 berarti temen-temen mempunyai 400 kunang-kunang yang bekerja, jika teman-teman set camera teman-teman ke ISO 100 berarti teman-teman cuman punya 100 kunang-kunang untuk bekerja di dalam kamera teman-teman.

Nah ukuran ISO dalam perbedaan satu stop adalah:
100 ->200 ->400-> 800 ->1600
ISO 800 adalah 3 kali lebih sensitif daripada ISO 100 (lebih sensitif terhadap cahaya 3 stop), tetapi hasil potonya mungkin agak grainy (seperti berpasir) Nah dalam hal ini lah yang harus menjadi pertimbangan teman-teman kapan harus kompensasi demikian.


nah itu tadi sedikit ulasan tentang teknik dasar fotografi yaitu exposure,bagi yang penasaran langsung ambil SLR nya dan langsung aja di praktekin ya,,untuk trik lain akan di bahas di lain kesempatan,,dan tetap disaluran yang sama jangan ganti chanel anda..selamaat mencoba..

sampai jumpa di bahasan yang lain..
salam jepreet..!!

9 Trik Singkat Memotret menggunakan Kamera saku



Kali ini Saya akan memberikan  9 Trik Singkat Memotret menggunakan Kamera saku

Memotret yang baik untuk menghasilkan foto yang apik ada tekniknya. yaitu yang akan saya jelaskan dalam 9 Trik Singkat Memotret menggunakan Kamera saku ini. Kamu tidak bisa sembarang menjepret. Dengan teknik yang tepat, kamera saku pun bisa menghasilkan gambar yang tak kalah apik di banding kamera professional. Betapa enaknya memotret dengan digital. Selain mudah di tenteng, pengoprasiannya pun jadi lebih gampang. Agar hasil jepretan makin indah, simaklah tips dan trik memotret dengan kamera mini tersebut.
Berikut cara menggunakan 9 Trik Singkat Memotret menggunakan Kamera saku

  • Gunakan Flash
Selain di gunakan sebagai penguat dan pengisi cahaya ( fill in ), lampu flash juga berfungsi membekukan gerakan. Saat memotret di luar ruangan, nyalakan flash untuk menerangi obyek foto yang membelakangi arah cahaya. Dengan cara ini, obyek utama tak menjadi gelap ( back light ). Demikian pula ketika memotret di ruang yang rada gelap, flash akan membekukan gerakan obyek.

  • Hindari Zoom Digital
Untuk mendapatkan ketajaman dan kualitas foto yang apik, kamu harus membidik obyek foto dari jarak jauh dengan menggunakan zoom optik saja. Hindari penggunaan zoom digital agar gambar tetap mulus. Nah,, matikan saja setelan zoom digital di kamera kamu.

  • Manfaatkan Scene Mode
Kamera digital sekarang sudah umum menyediakan mode otomatis untuk pemotretan Landscape, Potrait, serta Night Shot,biasanya pada kamera digital mode ini bisa kita dapatkan pada scroll kamera yang ditandai dengan simbol / icon. Mode - mode tersebut menyetel speed  dan diafragma secara otomatis sesuai kondisi pemotretan. Baca buku petunjuk penggunaan kamera untuk mengetahui fungsi setiap mode.

  • Menggeser Fokus
Foto dengan fokus gambar di tengah sudah menjadi hal biasa, atau kalau tidak dibilang monoton. Cobalah memfokuskan gambar ke bagian lain. Caranya, komposisikan dulu agar obyek utama berada di tengah layar LCD. selanjutnya tombol rana dipencet setengah untuk mengunci fokus pada obyek utama. Sebelum melepaskan rana, geser sedikit posisi arah kameranya dan komposisikan ulang, misalnya gambar utama menjadi dipinggir. Jika sudah sreg atau pas, lepas tombol rana.

  • Gunakan Tripod
Jika kecepatan rana lebih rendah dari yang di anjurkan ( biasanya di bawah 1/60 second ), LCD di kamera biasanya menampilkan gambar telapak tangan berkedip-kedip. Pada kondisi ini, gunakan tripod untuk menopang kamera agar tidak goyang. Atau jika darurat cobalah cari penopang yang ada contoh saja dengkul pun jadi untuk membantu menopang kamera, dengan cara anda dalam posisi jongkok lalu siku tangan di tempatkan di dengkul.

  • Foto Clouse Up
Saat memotret wajah, usahakan foto clouse up. Aktifkan continuous shot atau pemotretan beruntun untuk menghindari goyangan kamera saat menekan rana. Untuk membantu pencahayaan, aktifkan lampu flash pada setelan slow. Dan fungsi ini bisa juga di gunakan pada pemotretan still life.

  • Jepret Dulu, Hapus Kemudian
Demi menghemat daya baterai, sebaiknya kurangi intensitas meninjau ulang gambar lewat LCD. Jika ingin menghapus beberapa gambar, Lakukanlah setelah seluruh sesi pemotretan usai. Atau, buanglah foto jika isi kartu memori sudah mentok. Cara ini lebih mengirit baterai ketimbang mengecek foto tiap kali jepret.

  • Coba Sudut Ekstrem

Layar LCD di kamera saku memudahkan membidik obyek dari berbagai sudut. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, cobalah menjepret sasaran foto dari beragam angle. Tampak atas, Tampak bawah, Samping, Pokoknyasemua dijajal sob. Dari beragam sudut pengambilan gambar itu, kesan yang di munculkan oleh foto bisa lebih bervariasi.

  • Memanfaatkan White Balance

White balance ( WB ) tak cuma dipakai untuk menetralkan warna pada foto. Namun, dalam kasus tertentu, white balance justru bisa memberikan efek dramatis. Fungsinya mirip dengan penggunaan filter pada kamera SLR. Setelan Tungsten pada WB bisa dipakai untuk "mendinginkan" warna pada foto. Sedangkan Cloudy dan Fluorescent cenderung "menghangatkan" warna.

Nah.... sob sudah cukup kayaknya... Penjelasan 9 Trik Singkat Memotret menggunakan Kamera saku
Silahkan jika ingin membuktikannya...

  • Jika anda suka dengan artikel ini silahkan anda menyalinnya tetapi jangan lupa mencantumkan link sumber.

LENS_LENSA

LENS dalam English atau LENSA dalam Bahasa Melayu dibuat dalam berbagai – bagai format(seperti, Large Format, Medium Format, 35mm Format,110mm dan lain-lain lagi) oleh berbagai-bagai pengeluar. Oleh kerana format 35mm merupakan format yang paling popular, kita akan bincangkan format ini dahulu.
Bagi pengguna NIKON SLR atau DSLR, terdapat dua format lensa yang banyak dipasaran, iaitu, Full Frame (FX) mengikut sukatan saiz 35mm filem dan Digital (DX) mengikut sukatan saiz sensor kamera, yang lebih kecil dari saiz 35mm. Kiraannya ialah 1.5x crop factor. Setiap pengguna haruspeka akan format-format ini supaya tidak keliru dan dapat menggunakan lensa yang betul untuk menangkap gambar. Gambar dibawah merupakan contoh bagi lensa berformatkan 35mm dari pelbagai focal length.
Charta dibawah menunjukkan klasifikasi bagi lensa mengikut focal length dalam format 35mm SLR. Untuk mengetahui nilai focal length bagi format DX, pengguna harus membahaginya dengan crop factor jenama kamera masing-masing.

sumber asal: dpreview
Sebagai contoh untuk mengetahui nilai super wideangle ber-focal length 16mm (FX), bagi jenama Nikon (yang menggunakan 1.5 crop factor) ialah 10.667mm (DX),[16mm/1.5=10.6667mm]. Dengan itu kita harus menggunakan lensa Nikkor Fisheye 10.5mm ini, untuk merakam imej yang berdekatan. Sila layari contoh focal length yang telah disediakan untuk gambaran yang lebih jelas.
Sumber dari Blog Dr FaisalPhotography _jutaan terima kasih kepada beliau kerana menterjemahkan kedalam Bahasa Malaysia artikel ini dan saya cuma memanjangkan usaha beliau ke blog saya untuk para pengunjung blog saya khasnya dan kepada para peminat fotografi amnya